Konsep Dasar Pembelajaran Bahasa di SD


Bagaimana konsep dasar pembelajaran bahasa Indonesia di sekolah dasar? 
        Konsep dasar pembelajaran bahasa di Sekolah Dasar (SD) adalah peningkatan kompetensi berbahasa Indonesia pada siswa sekolah dasar. Berdasarkan dokumen yang ditemukan, konsep pembelajaran bahasa Indonesia di sekolah dasar mencakup empat aspek keterampilan berbahasa Indonesia, yaitu keterampilan menyimak, keterampilan berbicara, keterampilan membaca, dan keterampilan menulis.

A. Perbedaan Pembelajaran dan Pemeroleh Bahasa

    Pemerolehan bahasa merupakan proses yang terjadi di alam bawah sadar. Pemerolehan bahasa merupakan proses anak mulai  mengenal komunikasi dengan lingkungannya secara verbal. Dalam perkembangannya pemerolehan bahasa anak sangat dipengaruhi oleh lingkungan, baik lingkungan keluarga maupun lingkungan masyarakat. Cara anak memperoleh bahasa terbagi menjadi tiga teori, yaitu teori pemerolehan bahasa behavioristik,  teori pemerolehan bahasa navistik, dan teori pemerolehan bahasa kognitifistik.

1) Teori Pemerolehan Bahasa Behavioristik 
    Teori behavioristik menekankan bahwa pemerolehan bahasa pada anak karena adanya pengajaran dari lingkungan sekitarnya. Anak dipandang tidak mempunyai bekal apa-apa dan memperoleh pengetahuan dari alam sekitar. Teori behavioristik menyatakan bahwa otak bayi pada waktu dilahirkan sama seperti kertas kosong yang nanti akan ditulisi atau diisi dengan pengalaman-pengalaman. Dalam hal ini, semua pengetahuan dalam bahasa manusia yang tampak dalam perilaku berbahasa merupakan hasil dari integrasi peristiwa-peristiwa linguistik yang dialami dan diamati oleh manusia itu. Teori behavioristik menganggap bahwa pengetahuan linguistik terdiri hanya dari hubungan-hubungan yang dibentuk dengan cara pembelajaran stimulus dan respon. Menurut aliran behavioristik, pemerolehan bahasa itu bersifat nurture, yakni pemerolehan ditentukan oleh alam lingkungan.  
     Dengan demikian, teori behavioristik menganggap kemampuan berbicara dan memahami bahasa oleh anak diperoleh melalui rangsangan dari lingkungannya dan menurut aliran ini pemerolehan bahasa ialah pemerolehan kebiasaan. Proses perkembangan ditentukan oleh lamanya latihan yang diberikan oleh lingkungannya. Adapun perkembangan bahasa dipandang sebagai kemajuan dari penerapan prinsip stimulus-respons dan proses imitasi (peniruan).

2) Teori Pemerolehan Bahasa Navistik
    Teori nativistik (Chomsky, 2009: 49) menyatakan bahwa anak dapat memperoleh dan mengembangkan kemampuan berbahasa karena mereka mempunyai apa yang disebut sebagai innate language faculty atau lebih dikenal dengan Language Acquisition Device (LAD). Chomsky beranggapan bahwa pengaruh lingkungan bukan faktor penting dalam pemerolehan bahasa. Selama pemerolehan bahasa pertama, anak-anak sedikit demi sedikit membuka kemampuan lingualnya yang secara genetis telah diprogramkan. Pandangan ini beranggapan bahwa bahasa merupakan pemberian biologis yang sering disebut sebagai hipotesis nurani.
     Pemerolehan bahasa itu bukan didasarkan pada nurture, tetapi pada nature. Anak memperoleh kemampuan untuk berbahasa seperti dia memperoleh kemampuan untuk berdiri dan berjalan. Anak tidak dilahirkan sebagai piring kosong dan tabula rasa, tetapi ia telah dibekali dengan sebuah alat yang dinamakan Piranti pemerolehan Bahasa (Language Acquision Device).    

3) Teori Pemerolehan Bahasa  Kognitifistik
    Teori kognitifistik, dalam hubungannya dengan pemerolehan bahasa, merupakan teori yang mengakomodasi dua teori sebelumnya. Teori kognitif memandang pemerolehan bahasa sebagai hasil kerja mental dan berdasarkan kapasitas kognitif anak dalam menemukan struktur bahasa melalui lingkungan sekitarnya. Teori kognitif menegaskan bahwa alam dan organisme merupakan suatu kesatuan fungsional yang tak terpisahkan. Dengan demikian, teori kognitif mengakui adanya potensi bawaan manusia sekaligus memperhatikan aspek lingkungan di sekitar anak. 
     Teori kognitifistik menyatakan bahwa bahasa itu bukanlah suatu ciri alamiah yang terpisah, melainkan salah satu di antara beberapa kemampuan yang berasal dari kematangan kognitif. Bahasa distrukturi oleh nalar, maka perkembangan bahasa harus berlandas pada perbahan yang lebih mendasar dan lebih umum di dalam kognitif. Bahasa dapat membantu perkembangan kognitif. Bahasa dapat mengarahkan perhatian anak pada benda-benda baru atau hubungan baru yang ada di lingkungan, mengenalkan anak pada pandangan-pandangan yang berbeda dan memberikan informasi pada anak. Bahasa adalah salah satu dari berbagai perangkat yang terdapat dalam sistem kognitif manusia. Teori kognitifistik beranggapan bahwa anak dilahirkan dengan kemampuan berpikir dan di dalamnya termasuk kemampuan berbahasa. 

     Pembelajaran bahasa berkaitan dengan proses-proses yang terjadi pada waktu seseorang mempelajari bahasa kedua setelah dia memperoleh bahasa pertamanya. Pemerolehan bahasa dan pembelajaran bahasa merupakan dua hal yang berbeda. Jadi, pemerolehan bahasa berkenaan dengan bahasa pertama, sedangkan pembelajaran bahasa berkenaan dengan bahasa kedua. 

Perbedaan pembelajaran bahasa dan pemerolehan bahasa:
  • Pemerolehan merupakan proses bawah sadar dan terjadi melalui masukan yang dapat dipahami anak, sedangkan pembelajaran merupakan proses sadar untuk menghafal kaidah, bentuk, dan struktur.
  • Pemerolehan bahasa berfokus pada komunikasi penuh makna, sedangkan pembelajaran bahasa berfokus pada bentuk-bentuk bahasa.
  • Pemerolehan bahasa menekankan pada tumbuhnya kecakapan bahasa secara alamiah, sedangkan pembelajaran bahasa menekankan pada kemampuan produksi bahasa yang dihasilkan dari ketertarikan pada tahap awal.
  • Pada pemerolehan bahasa kesalahan yang terjadi merupakan hal yang wajar, sedangkan pada pembelajaran bahasa koreksi kesalahan sangat penting untuk mencapai tingkat penguasaan.
  • Keberhasilan pemerolehan bahasa didasarkan pada penggunaan bahasa untuk melakukan sesuatu sedangkan keberhasilan pembelajaran bahasa didasarkan pada penguasaan bentuk-bentuk bahasa.

B. Perbedaan Pembelajaran Bahasa di SD Kelas Rendah dan Kelas Tinggi   

        Bahasa Indonesia merupakan matapelajaran yang dipelajari di sekolah dasar mulai dari kelas 1 sampai kelas 6. Pembelajaran di sekolah dasar ini dapat dibagi menjadi pembelajaran kelas rendah dan kelas tinggi.  Pembelajaran untuk siswa kelas rendah merupakan pembelajaran yang dilaksanakan untuk siswa yang berada pada kelas 1, 2 dan 3, sedangkan proses pembelajaran yang untuk siswa kelas tinggi yaitu untuk siswa yang berada pada kelas 3,4 dan 5. Perbedaan dalam konsep pembelajaran bahasa indonesia kelas rendah dengan konsep pembelajaran bahasa indonesia kelas tinggi yaitu pada tujuan pembelajaran, pendekatan pembelajaran, dan metode pembelajaran.
        Pendekatan pembelajaran bahasa Indonesia di kelas rendah dan tinggi di sekolah dasar berbeda-beda.
  • Di kelas rendah, pendekatan yang digunakan adalah pendekatan tujuan dan pendekatan struktural. Pendekatan tujuan mengacu pada pembelajaran yang terpusat pada tujuan akhir, yang diperoleh oleh siswa setelah berlakukan proses belajar. Pendekatan struktural mengacu pada pembelajaran yang terpusat pada struktur dan sistem bahasa. 
  • Di kelas tinggi, pendekatan yang digunakan adalah pendekatan keterampilan proses, whole language, pendekatan terpadu, kontekstual, dan komunikatif. Pendekatan keterampilan proses mengacu pada pembelajaran yang terpusat pada keterampilan yang dapat digunakan dalam berbagai situasi. Whole language mengacu pada pembelajaran bahasa yang didasari oleh paham konstruktivisme, bahasa dapat diajarkan secara utuh, tidak terpisah-pisah. Pendekatan terpadu mengacu pada pembelajaran bahasa yang terintegrasi dengan berbagai aspek kehidupan. Pendekatan kontekstual mengacu pada pembelajaran bahasa yang terintegrasi dengan situasi dan kehidupan siswa. Pendekatan komunikatif mengacu pada pembelajaran bahasa yang terintegrasi dengan kebutuhan komunikasi siswa. 
      Metode pembelajaran yang digunakan juga berbeda-beda. Di kelas rendah, metode yang digunakan adalah metode eja, metode suku kata, dan metode kata. Di kelas tinggi, metode yang digunakan adalah metode global dan metode Struktural Analitik Sintetik. Metode global mengacu pada pembelajaran bahasa yang terintegrasi dengan berbagai aspek kehidupan. Metode SAS mengacu pada pembelajaran bahasa yang terintegrasi dengan berbagai aspek kehidupan dan kompetensi dasar. 

C. Tujuan, Prinsip Dasar, dan Fungsi Pembelajaran Bahasa Indonesia di SD 

1. Tujuan dan Fungsi Pembelajaran Bahasa Indonesia di Sekolah Dasar
    Pembelajaran bahasa Indonesia di sekolah dasar memiliki tujuan dan fungsi yang penting. Tujuan pembelajaran bahasa Indonesia diarahkan agar siswa. mampu memahami dan menggunakan bahasa Indonesia secara efektif dan efisien baik lisan maupun tulisan. Selain itu, pembelajaran bahasa Indonesia juga bertujuan untuk membantu siswa mengenal, menghargai, dan bangga menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan dan bahasa negara. Fungsi pembelajaran bahasa Indonesia di sekolah dasar antara lain sebagai sarana pembinaan kesatuan dan persatuan bangsa, peningkatan pengetahuan dan keterampilan berbahasa Indonesis, serta penyebarluasan pemakaian bahasa Indonesia yang baik untuk berbagai keperluan.

2. Prinsip Dasar  Pembelajaran Bahasa Indonesia di SD 
Ada empat prinsip dalam pembelajaran bahasa Indonesia yaitu prinsip kontekstual, prinsip integratif, prinsip fungsional, dan prinsip apresiatif.

  • Prinsip kontekstual, konsep belajar pada prinsip ini menghadirkan dunia nyata ke dalam kelas dan mendorong peserta didik membuat hubungan antara pengetahuan yang dimiliki dengan kehidupan nyata.
  • Prinsip integratif, yaitu pembelajaran bahasa disajikan tidak terpisah-pisah. Pembelajaran bahasa secara terpadu atau terintegratif. Bisa dipadukan pembelajaran menyimak, mendengarkan, membaca, dan menulis. 
  • Prinsip fungsional, yaitu prinsip yang mengisyaratkan bahwa guru  bukanlah penguasa dalam kelas, bukanlah satu-satunya pemberi informasi dan sumber belajar. Jadi, pada prinsip ini dijelaskan bahwa pembelajaran tidak hanya dari satu sumber melainkan pada multi sumber. 
  • Prinsip apresiatif, yaitu prinsip yang memberikan dasar bahwa pelaksanaan pembelajaran harus menyenangkan.




Kelompok 1:

  • Nopitasari                      (A1D122017)
  • Latifa Ruliandari           (A1D122019)
  • Rivaldi Aulia Fikri        (A1D122021)